Skip to content

apotek k-24

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size
Home arrow Franchise arrow Franchise News arrow Wajah-wajah Baru di Panggung Waralaba
Visitors
Since 24 Oct 2005
Google
Wajah-wajah Baru di Panggung Waralaba Print E-mail
Oleh : Yuyun Manopol
 
Inspirasi bisnis biasanya datang tak hanya dari keberhasilan orang lain, tapi juga kesulitan yang pernah dialami sendiri. Yang terakhir ini tampaknya pas untuk Gideon Hartono. Sulitnya menemukan obat pada malam hari dan hari libur memberi inspirasi kepada sang dokter ini untuk meluncurkan apotek 24 jam. Pada 2002, ia pun mulai mengoperasikan Apotek K-24. Artinya, apotek komplet 24 jam nonstop dengan harga yang sama.
 

Untuk daya tarik penampilan, Direktur Utama K-24 ini memanfaatkan facade panel dengan warna-warna mencolok: dominasi hijau, berpadu dengan merah, kuning dan putih. Warna-warna ini punya arti. Hijau sebagai simbol bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, merah mengartikan ada juga yang kristiani, kuning berarti Cina, dan putih menyimbolkan kelompok lain yang tidak diwakili warna hijau, merah dan kuning.
 
ternyata, respons pasar sangat positif. Banyak orang tertarik membeli obat di K-24. Alhasil, Setahun kemudian (2003), saya buka outlet baru, sama-sama di Yogya. Ternyata, respons pasar juga bagus, ujar Daniel. Sejak itu, timbul keinginannya mengembangkan jaringan apotek K-24 dengan cara waralaba di berbagai daerah lain.

Pada 2004, Apotek K-24 mencoba ekspansi ke luar Yogya. Wilayah yang dipilih, Semarang. Hasilnya memuaskan. “Saat ini omsetnya belum sebesar dua apotek di Yogyakarta. Namun, yang saya bangga, dalam usia yang sama ketika outlet di Yogyakarta diluncurkan pertama kali, pertumbuhan outlet di Semarang sebenarnya tak jauh berbeda.

Setelah melakukan berbagai persiapan, pada Oktober 2005 ia meluncurkan 7 apotek waralabanya sekaligus: empat di Surabaya, dua di Yogya, dan satu di Semarang. Sehingga, kini Gideon memiliki 10 Apotek K-24, tiga di antaranya milik sendiri, yaitu dua di Yogya dan satu di Semarang.

Terwaralaba akan memperoleh pelatihan, peralatan dan perlengkapan pendukung, plus ribuan item jenis obat (tahap awal). Obat ini terdiri dari obat yang permintaannya tinggi (fast moving) hingga yang soft moving. Sekitar 70% pasokan obat ini berasal dari Yogya, sedangkan sisanya dari pedagang besar farmasi setempat.

Dengan angka investasi tersebut, sang pewaralaba (franchisor) tidak terlibat dalam perekrutan apoteker dan asisten apoteker. Akan tetapi, dikatakan Gideon, Karena kebanyakan tak berpengalaman melakukan perekrutan, saya tak keberatan melakukan prosesi rekrutment. Putusan akhirnya tetap di tangan franchisee. Alasannya, apoteker dan asisten apoteker tersebut juga akan menjadi anak buah pemegang waralaba. “Kalau semua proses waralaba dilakukan sebagaimana panduan yang ada di K-24, ujarnya, saya jamin usaha akan berjalan lancar.

Ia optimistis, tiap bulan omset apotek naik “Dengan catatan, lokasi harus tepat, ujarnya lalu menambahkan, lokasi yang dimaksud adalah di ibukota provinsi dan di pinggir jalan yang ramai.

Terus terang, saya belum mempunyai pengalaman buruk dalam pembukaan K-24. Karena, semua berjalan sesuai rencana, tuturnya. Diungkapkan, hanya satu apotek yang kinerja omsetnya belum sebesar yang lain. Alasannya, usianya relatif muda. “Itu biasa. Yang lain, tatkala seusianya, mengalami nasib serupa, ia berkilah.


Reportase: Suhariyanto (Surabaya)
 
< Sebelum   Berikut >
6 Rekor MURI Terpecahkan Sekaligus
www.apotek-k24.com

31/12/2007 10:08:56 YOGYA (KR) - Ribuan warga lanjut usia (Lansia) Kota Yogya bersama Hi-Lab Diagnostic Center berhasil mencatatkan 6 rekor sekaligus pada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)...
selengkapnya...

Dukungan Pemerintah Belum Optimal
KOMPAS

Sabtu, 9 Februari 2008 | 02:55 WIB Jakarta, Kompas - Peluang usaha berkonsep waralaba atau franchise belum mendapat perhatian pemerintah secara optimal. Padahal, usaha ini mampu menciptakan lapangan...
selengkapnya...

Peminat Bisnis Waralaba Bergeser ke Daerah
www.apotek-k24.com

SURABAYA – Perkembangan bisnis waralaba di Indonesia mulai bergeser ke daerah. Perkotaan dinilai mulai jenuh dengan banyaknya waralaba dari berbagai macam usaha. namun, penetrasi waralaba ke...
selengkapnya...






Lupa password?